AYO MANFAATKAN BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK

Rabu, 04 Juli 2012

RSBI Dalam Proses Evaluasi

SEMARANG- Sejumlah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menilai program satuan pendidikan tersebut belum bisa dianggap gagal.


Pasalnya, proses evaluasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus berlanjut dan memang belum menetapkan RSBI menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
Kepala SMA 3 Semarang Hari Waluyo mengatakan, untuk menilai RSBI jangan ditinjau dari hasil Ujian Nasional (UN) saja, kemudian dibandingkan dengan sekolah negeri umumnya. Sebab, nilai UN bukanlah acuan utama dan tolok ukur kemajuan sebuah sekolah.
 
 ”Karena itu, kita belum bisa dinyatakan gagal, karena penilaian RSBI lebih mengacu penerapan delapan standar nasional pendidikan ditambah faktor X yang merupakan nilai plus kekhasan yang dimiliki sekolah. Nilai plus itu bisa dari pembelajaran yang mengadopsi negara maju melalui sister school atau penerapan sistem kredit semester di sekolah,” katanya, kemarin.

Yang terpenting, dalam implementasi program RSBI satuan pendidikan berpedoman pada Permendiknas No 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan RSBI.


Belum 100%

Seperti SMA 3 Semarang, merupakan salah satu satuan pendidikan yang masuk pada angkatan pertama ditetapkan sebagai RSBI di tahun ajaran 2006/2007. Setelah berjalan enam tahun sebagai RSBI, SMA 3 Semarang sudah dua kali melakukan evaluasi dan satu validasi yang dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMA Kemdikbud. Hasil penilaiannya, selalu berada di atas rata-rata standar, meski belum mencapai 100%.

”Kami memang belum bisa mencapai angka sempurna 100% untuk memenuhi kriteria dalam indikator penilaian Kemdikbud, namun untuk menjadi SBI tentu saja butuh proses,” kata Hari.

Dari aturan yang ada, lanjut dia, RSBI akan diangkat menjadi SBI setelah enam tahun berjalan. Dan, status SBI untuk SMA 3 rencananya akan ditetapkan tahun depan. Perlu diketahui bagi RSBI angkatan pertama, saat ini sudah tidak mendapat bantuan dari pemerintah, karena dianggap sudah berjalan lama dan mandiri.


Senada dengan itu, Kepala SMP 21 Semarang Suyadi juga menyatakan, penyelenggaraan program RSBI tidak gagal. Artinya, penyelenggaraan pendidikan itu integral, tidak bisa dinilai dari satu sisi.

Menurutnya, tidak bisa RSBI dianggap memanfaatkan untuk menarik pungutan sebesar-besarnya kepada wali murid atau siswa. Sebab, dalam menghimpun dana dari masyarakat pihaknya tetap berpedoman pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). (K3-37)
Sumber: Suara Merdeka

0 komentar:

Poskan Komentar